Waktu benar-benar tidak ada yang dapat menduga. Sama sekali tidak pernah terpikir olehku untuk meninggalkan kota yang penuh kenangan ini dalam tempo yang cukup singkat. Bahkan posting mengenai kedatanganku pertama kali ke kota ini pun belum tertimpa jauh oleh posting-posting lainnya, selain karena aku emang jarang posting, juga didukung oleh waktu yang memang belum lama itu. Masih teringat jelas gimana rasanya aku pertama kali menginjakkan kaki di kota yang damai ini dan kini aku harus segera meninggalkannya. Saat pertama kali mendengar kabar akan di mutasi ke Balikpapan, rasanya campur aduk, mulai dari siyok karena senang tapi juga sedih. Kenapa senang, tidak perlu kujelaskan, tapi mengapa sedih? Karena aku harus meninggalkan segala sesuatu yang telah kumiliki dengan baik di Dumai, mulai dari pertemanan, rumah yang cozy, lingkungan yang sudah dapat kukendalikan dan yang pasti karaoke time with Taufik, Ragil dan Datul (I’ll never forget those guys!!). Sekalipun masalah kepindahan ini pernah terbersit dipikiranku sesekali, terutama kalau lagi penat-penatnya, tapi itu hanya lintas lalu saja, tidak pernah sampai pada titik yang mengatakan harus pindah, harus pindah!!
Dumai memang bukanlah kota yang menarik, bahkan bisa dikatakan “kota mati!” Tapi entah mengapa aku sudah berhasil menaklukkannya, dalam artian aku sudah tidak pernah tertekan oleh keterbatasan keadaan kota itu sendiri. Untuk urusan pasar ke pasar, jangan di tanya lagi, aku sudah tau semua sudut pasar di kota ini dan aku menikmatinya, untuk urusan hiburan, hellooo, hanya karaoke hiburan yang paling tob markotob, pantai?? Jangn ditanya!! Tidak ada pantai yang indah di kota ini, haha, bahkan memang tidak ada pantai!! Yang ada hanyalah teluk, dan itupun tidak indah, air nya berwarna cola, sama seperti sungainya!! Bagaimana dengan rumah, oh helloooo, halaman rumahku adalah hutan seluas 50 Ha!! You named it, segala jesnis insecta dan beberapa reptil pernah mengunjungiku, hahaha. Dari segi makanan, a big woowww!!! Tidak ada yang spesial!!! I’m prefer to cook it myself, selain lebih murah juga lebih kreatif. Mau ke Medan, gampang, cuma 12 jam perjalanan darat, owwwwhhh!!! But overall, over the condition, I already love this town. I love it not because it can give me anything I want, but because it force me to get anything I want by myself, dan itu menjadikanku kuat dan tidak banyak ‘cincong’.
I love y Dumai, semoga ketika bertemu kembali, kotamu sudah semakin maju dan berkembang. Berlayarlah yang jauh, Bumi Lancang Kuning!