Beberapa hari belakangan ini, sepertinya visi untuk ikut serta melakukan perubahan dalam bangsa ini memang semakin pudar. Sepertinya sudah hilang pengharapan untuk mengubah sistem yang telah bertahun-tahun bercokol di negeri ini, baik itu korupsi, ketidak pedulian terhadap orang lain, tidak mau bekerja keras, dan yang terpenting adalah tidak mau berkorban tanpa pamrih.
Kemaren, tanpa sengaja bersama temen gw si Dame jalan ke video ezy. Yah, secara skripsi sepertinya mandek di bab 3, mau ga mau pengen refreshing lah, sapa tau ada film yang enak. Begitu ngebuka pintu ezy, mataku langsung tertuju pada tiga film yaitu amazing grace, one night with the king, dan film lama legaly blonde 2. langsunglah tanganku secepat kilat mengambil, takut2 ada yang keburu ngambil karna berdsarkan kebiasaan, dengan jumlah stok yang terbatas, tu film cepet banget diambil orang. Pas nyampe kosan, aku langsung putar film pertama, one night with the king. Sebenarnya aku punya nih dvd waktu dimedan, Cuma ga pernah kuputar dengan pertimbangan paling ceritanya ngebosenin. Yah, Tuhan emang berbicara disaaat yang tepat. Justru Dia menunjukkan film ini ketika komputerku ga bisa DVD n visi hidup juga memudar. Ternyata gila ya, kisah Ester yang divisualisasikan lewat film ini baru bener2 kerasa ketimbang hanya membaca karna di film ini terlihat banget sikap manusia yang tamak seperti Haman. Kisah Ester juga nunjukin klo emang Tuhan udah nunjuk kita, siapapun bisa Dia pake dengan cara yang ga diduga. Sama aja kaya film Amazing Grace, William Wilberforce juga dipakai Tuhan untuk merubah nasib beribu-beribu orang. Could I??
Dua film ini bener-bener ngingetin aku klo ga ada yang mustahil bagi Tuhan. William Wilberforce tidak dijawab dalam waktu yang cepat. Bertahun-tahun dia menunggu dengan tekanan dari semua pihak di parlemen yang akhirnya ngebuat dia putus pengharapan dan jatuh sakit. Nah, pada saat itu justru Tuhan justru memberi jawaban atas setiap doa dan permohonannya. Bayangin aja, sangkin putus asanya dia, dia sempat berfikir untuk menjadi seorang pendeta saja karena dia ga tahan ngeliat perdagangan budak pada saat itu. Tapi Tuhan bilang apa, tidak, kau tidak perlu menjadi pendeta untuk merubah sistem perbudakan, kau harus berkarya dalam duniamu untuk kebesarna nama KU. Yah, walopun ga gitu-gitu persis, tapi kurang lebih itulah yang ingin dikatakan Tuhan melalui film ini. Sama Esther juga, ketika tantangan yang harus dia hadapi guede banget, bahkan nyawanya, di tetap percaya satu hal, TUHAN. And finnaly, Tuhan mendengar seruannya.
Fiuhh….emang susah saat ini untuk memiliki hati yang teguh seperti Esther dan William Wilberforce. Klo dipikir-pikir, William itu kaya, ngapain dia heboh-heboh kaya gitu. Esther juga, secara dia udah jadi ratu, buat apanya lagi sih. Tapi kita memang ga bisa lari dari ketetapan Tuhan. Klo Tuhan udah bilang lakukan, kemanapun kita lari, tetep aja deh balik-balik kesitu. Tapi Tuhan juga ga tinggal diam, Dia bekerja dibalik semuanya.
Ketakutanku belakangan ini untuk menjadi hakim, takut mati klo hidup jujur tentunya hanyalah ketakutan yang ga ada apa-apanya dibanding Esther dan Wilberforce. Ia, Indonesia butuh orang-orang seperti Esther and Wilberforce untuk merubah bangsa ini.
Sinopsis kisah ini bisa diliat di:
http://www.yabina.org/artikel/2007/A’1107_2.htm
Filed under: Campur Sari



Halo Gofar. Ngeblog juga yah…
Gw udah nonton tuh Amazing Grace. Bener2 mengajarkan gimana Tuhan bekerja lewat umat-Nya. Ga harus jadi pendeta buat menjalankan visi-Nya. Bahkan, Willian Wilberforce yang mau jadi pendeta malah ditolak Tuhan lewat hamba-Nya yang lain (John Newton ya klo ga salah ya?).
Bagus klo udah bisa nangkap visi Tuhan. Tetap berjuang buat menghidupi visi itu ya. Terus bergantung ke Tuhan. Semangat…!!!
iyah…
semoga…tapi kadang itu hanya bisa bertahan 5 jam setelah nonton…selebihnya…..
I Surrender all…..:)